Hari ini akan membahas banyak keluahan jadi perhatikan. Keluhan di media sosial memang kerap kali kita lihat, apapun media sosialnya pasti tetap akan ada sebuah keluhan dan keresahan dari pengguna media sosial tersebut.
 |
Ilustrasi: Playing Social Media | wallpapersafari.com |
Walaupun selalu ada keluhan dalam media sosial, kita hanya sekedar membacanya kemudian berlalu, selama keluhan dan keresahan itu tidak ada kaitannya dengan kita, ya udah skip aja wir. Beda halnya jika keluhan dan keresahan itu berkaitan dengan kita dan orang terdekat, pasti kita akan lebih peduli akan keluhan tersebut.
Namun yang ingin saya soroti disini adalah, apakah mengeluh di media sosial itu bisa disebut narsis atau katarsis? Tetntu saja pertanyaan diatas hanya bisa dijawab oleh si pembuatnya saja, kita sebagai pemirsa tidak tau apakah keluhan tersebut termasuk narsis atau katarsis.
Pengertian Narsis dan Katarsis
Ok cepat saja, Mmenurut KBBI, narsis adalah kepedulian yang berlebihan kepada diri sendiri yang ditandai dengan adanya sikap arogan, percaya diri, dan egois. Berarti menurut KBBI jika terdapat satu sifat saja yang tidak ada dari ketiga sifat tersebut, maka seseorang tidak dianggap narsis.
Sedangkan menurut Alodokter, narsis adalah perilaku ketika seseorang merasa terlalu kagum dengan dirinya sendiri dan cenderung mementingkan diri sendiri. Perlu diingat juga bahwa narsis tidak selalu berdampak buruk bagi pelakunya.
Sedangkan katarsis menurut wikipedia adalah. Katarsis adalah pelepasan emosi yang tersimpan dalam hati yang terkait dengan kejadian traumatis dengan memunculkan emosi tersebut ke alam sadar. Ingat kata kuncinya wir.
Menurut Halodoc, katarsis adalah proses pelepasan emosional yang dapat membantu seseorang meredakan masalahnya. Selain melalui terapi, pelepasan emosional juga dapat dilakukan dengan melakukan kegiatan tertentu.
Sedikit informasi website Alodokter dan Halodoc merupakan website yang berbeda, walaupun begitu keduanya sama-sama membahas tentang kesehatan mental dan fisik. Biar kalian tahu bahwa saya tidak salah ketik.
Antara Katarsis atau Narsis
Dibalik sebuah keluhan tersebut pasti terdapat dinamika yang menarik dan sering kali kontras antara dua elemen yang mendasari tindakan mengeluh ini. Apakah mengeluh di media sosial sebatas narsisisme, keinginan akan perhatian, ataukah itu merupakan proses katarsis yang sehat untuk menyampaikan perasaan dan meredakan tekanan emosional?
Contoh saja, terkadang dalam status WhatsApp ada yang menuliskan "Hari ini bener-bener bikin cape!" atau "Kenapa hidupku sekeras ini?" Terus, apa tujuannya? Biar dikasih perhatian atau cuma ekspresi aja? Walaupun saya tidak peduli tapi Jujur, saya bingung sendiri.
Tapi dilain sisi, saya percaya banyak juga yang menulis keluhan bukan buat pamer, tapi emang mau nyari temen yang bisa ngertiin atau bahkan ngasih saran. Mungkin itulah yang dinamakan katarsis. Mereka yang menulis keluhan bukan karena pengen jadi selebgram curhatan, tapi lebih karena mereka merasa dapet kelegaan atau dukungan dari komunitas mereka.
Terkadang juga orang berbagi pengalaman atau cerita, kemudian banyak yang berkomentar dan ngasih semangat. Jadi, ya, bisa aja nulis keluhan di medsos buat sebagian orang itu seperti self-therapy.
Tapi tau diri juga ya wir saat berkeluh kesah. Apalagi jika tiap hari, berasa kayak ada rekaman ulang film dramanya orang itu terus-terusan. Saat seperti ini saya akan mungganakan mode senyap untuk tidak melihatnya lagi.
Atau bisa saja keluhan yang sering dilihat pada media sosial merupakan gabungan antara keduanya? Sekali lagi, saya tidak tahu.
Mengeluhlah dengan Sedikit Postif
Ini saran saja ya ges. Terkadang tidak bisa dipungkiri juga, ternyata ada kok yang bisa nulis keluhan tapi tetep positif. Mereka sepertinya tau bagaimana cara ngeluarin perasaan tanpa harus ngebuat orang lain ikut-ikutan ngerasa stress.
Jadi sebagai manusia, kita harus mikir lagi gimana caranya ngeluarin keluhan di media sosial. Jangan sampe keluhan kita malah bikin orang lain merasa kesal. Buatlah timeline orang-orang disekitarmu menjadi lebih berwarna. Baru setelah itu sesekali ngeluh kgk ngaruh wir.
Mengeluh tidak selalu buruk, tapi jangan terlalu lama disatu sisi saja. Kebanyakan dari manusia saat membaca sebuah keluh kesah, mereka akan menjadikan gosip daripada peduli dengan keluhan tersebut.
Konklusi
Intinya gak usah terlalu pusing ges. Biarkan mereka berkeluh kesah dengan hidupnya jika kamu merasa bisa, mampu, dan mau memberi solusi, ya kasih aja. Tapi jika semua itu sudah sering terjadi. Kalo seperti itu terserah kalian ges.
Daripada mengeluh saya sarankan lebih baik bersyukur dan langsung mencari solusinya. Tapi mau gimana lagi namanya manusia juga kan. Saya kadang juga mengeluh hehe.
Btw untuk judul dari opini ini saya dapatkan setelah saya mendengar lagu dari TK from 凛として時雨 yang berjudul Khatarsis.
Ada beberapa temen blogger yg terkadang menuliskan semua masalahnya di medsos dan blog. Tapi selagi dia menuliskan dengan cara baik, ga berkesan cari perhatian, aku fine aja. Malah tulisannya tetep kliatan dia masih positif dengan masalah yg dihadapi.
BalasHapusBeda cerita kalo cuma ngeluuuuh, tapi ga ada solusi, cara menulis keluhan juga nampak bgt hanya sekedar cari perhatian. Kan kliatan yaaa
Yg begini aku males mas. Pengen di mute rasanya, atau unfollow sekalian 🤣.