Satu Bulan Tanpa Smartphone, dan Saya Baik-baik Saja
Mulai pertengahan Agustus tahun ini saya merasa bosan, bahkan sangat bosan. Sampai-sampai memegang smartphone saja sudah tidak memiliki gairah.
![]() |
| Latsarmil Bela Negara 2026 | Nova Rio Redondo |
Bagi sebagian orang, kalimat itu mungkin terdengar aneh. Bagaimana mungkin seseorang merasa bosan dengan benda yang selama bertahun-tahun hampir tidak pernah jauh dari tangan? Smartphone sudah menjadi semacam perpanjangan dari diri kita.
Bangun tidur mencarinya. Sebelum tidur memeriksanya. Saat makan melihatnya. Saat menunggu seseorang membukanya. Bahkan ketika tidak ada sesuatu yang perlu dicari, kita tetap mencarinya.
Saya pun dulu begitu. Tetapi ada satu masa ketika saya dipaksa untuk hidup tanpanya.
Bukan karena ingin. Bukan karena sedang mengikuti tren detoks digital. Dan bukan pula karena tiba-tiba menjadi orang yang sangat sadar akan bahaya teknologi.
Saya hanya tidak punya pilihan.
Di sana, hari dimulai ketika kebanyakan orang masih tidur. Pukul empat pagi atau bahkan kurang kami sudah harus bangun.
Setelah itu semuanya berjalan seperti sebuah mesin yang tidak mengenal kata malas. Latihan fisik, pembinaan, materi, kegiatan kelompok, apel, evaluasi, dan berbagai aktivitas lain yang membuat waktu terasa tidak pernah benar-benar menjadi milik kami.
Malam pun tidak benar-benar menjadi malam. Pukul sepuluh kami harus sudah tidur. Begitulah hari-hari berjalan.
Tidak ada waktu untuk rebahan sambil membuka media sosial. Tidak ada waktu untuk menonton video pendek selama berjam-jam. Tidak ada notifikasi yang membuat tangan secara refleks merogoh saku.
Karena Tidak ada smartphone. Atau lebih tepatnya, ada, tetapi kami tidak benar-benar memilikinya.
Kami hanya diberi kesempatan memegangnya beberapa menit dalam satu minggu. Kurang lebih tiga puluh sampai empat puluh menit. Itu pun hanya pada hari Rabu. Biasanya setelah salat Magrib dan makan malam.
Awalnya, waktu sesingkat itu terasa seperti hadiah yang sangat besar.
Saya ingat bagaimana rasanya ketika akhirnya bisa memegang ponsel setelah berhari-hari tidak menyentuhnya. Ada rasa rindu yang sulit dijelaskan. Rindu kepada keluarga dan teman-teman. Rindu kepada kehidupan yang selama ini terasa begitu biasa sampai kita tidak pernah menyadari betapa berharganya.
Begitu ponsel berada di tangan, dunia seolah kembali terbuka. Pesan masuk. Notifikasi. Kabar dari rumah. Teman yang bertanya bagaimana keadaan. Percakapan singkat yang sebenarnya sederhana, tetapi terasa begitu penting.
Namun maaf tidak ada waktu untuk menjawab satu persatu hari itu juga.
Teman-teman saya pun melakukan hal yang sama. Kami menggunakan waktu yang sangat singkat itu dengan sebaik-baiknya. Ada yang menelepon keluarga. Ada yang membalas pesan. Ada yang hanya duduk diam sambil menatap layar.
Mungkin lucu kalau dipikir sekarang. Kami begitu merindukan sebuah benda yang sebenarnya tidak pernah benar-benar meninggalkan kami. Tetapi setelah beberapa minggu, sesuatu yang aneh mulai terjadi.
Saya mulai terbiasa.
Awalnya tanpa smartphone terasa seperti kehilangan sesuatu. Seolah ada bagian dari diri yang dicabut paksa. Namun perlahan, rasa kehilangan itu berkurang.
Hari-hari tetap berjalan. Bahkan ternyata berjalan dengan baik.
Saya mulai menyadari bahwa selama ini saya terlalu sering menganggap smartphone sebagai kebutuhan, padahal sebagian besar waktu saya hanya menggunakannya untuk mengusir kesunyian.
Dan ketika kesunyian itu benar-benar datang, ternyata saya tidak mati.
Saya masih bisa berpikir. Saya masih bisa berbicara. Saya masih bisa tertawa. Saya masih bisa merasa lelah. Saya masih bisa merasa senang.
Bahkan saya mulai menikmati beberapa hal yang sebelumnya mungkin luput dari perhatian.
Percakapan langsung dengan teman menjadi lebih berarti. Ketika seseorang berbicara, kita benar-benar mendengarkan. Ketika seseorang bercanda, kita tertawa tanpa perlu merekamnya. Ketika seseorang bercerita tentang keluarganya, kita tidak sibuk melihat layar.
Di tempat itu pula saya belajar tentang satu kata yang sederhana tetapi sering sulit dilakukan: KORSA.
Korsa bukan sekadar berjalan bersama atau mengenakan pakaian yang sama. Ada perasaan bahwa apa yang dilakukan satu orang dapat memengaruhi orang lain. Kesalahan seseorang bisa menjadi beban kelompok. Keberhasilan seseorang juga menjadi kebanggaan bersama.
Kami belajar disiplin. Belajar bertanggung jawab. Belajar jujur. Dengan semangat tentunya. Setidaknya itu yang sering ditekankan pelatih dan komandan.
Tentu saja semuanya tidak selalu menyenangkan. Ada hari-hari ketika tubuh terasa benar" lelah. Ada saat ketika rasanya ingin berhenti. Ada aturan yang terasa berat. Ada kegiatan yang membuat kami bertanya dalam hati, sebenarnya untuk apa semua ini?
Tetapi mungkin manusia memang sering baru memahami sesuatu setelah melewati bagian yang tidak ia sukai. Saya tidak mengatakan pendidikan itu selalu mudah. Justru sebaliknya. Banyak dukanya.
Namun anehnya, ketika semuanya selesai, justru bagian-bagian yang paling berat itulah yang paling sering muncul dalam ingatan.
Ada sesuatu yang tertinggal dari penderitaan yang dijalani bersama. Sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh layar smartphone.
Mungkin karena selama satu bulan itu saya akhirnya punya kesempatan untuk benar-benar hadir di tempat saya berada. Tidak ke masa lalu, masa depan, tidak juga di dunia maya
Hanya di sana.


Posting Komentar untuk "Satu Bulan Tanpa Smartphone, dan Saya Baik-baik Saja"