Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Satu Bulan Tanpa Smartphone, dan Saya Baik-baik Saja

Mulai pertengahan Agustus tahun ini saya merasa bosan, bahkan sangat bosan. Sampai-sampai memegang smartphone saja sudah tidak memiliki gairah.

Latsarmil Bela Negara 2026
Latsarmil Bela Negara 2026 | Nova Rio Redondo

Bagi sebagian orang, kalimat itu mungkin terdengar aneh. Bagaimana mungkin seseorang merasa bosan dengan benda yang selama bertahun-tahun hampir tidak pernah jauh dari tangan? Smartphone sudah menjadi semacam perpanjangan dari diri kita.

Bangun tidur mencarinya. Sebelum tidur memeriksanya. Saat makan melihatnya. Saat menunggu seseorang membukanya. Bahkan ketika tidak ada sesuatu yang perlu dicari, kita tetap mencarinya.

Saya pun dulu begitu. Tetapi ada satu masa ketika saya dipaksa untuk hidup tanpanya. 

Bukan karena ingin. Bukan karena sedang mengikuti tren detoks digital. Dan bukan pula karena tiba-tiba menjadi orang yang sangat sadar akan bahaya teknologi.

Saya hanya tidak punya pilihan.

Satu bulan lebih dikit, dari 14 Juni sampai 17 Juli, saya mengikuti pendidikan dasar militer selama kurang lebih dua minggu dan kemudian dilanjutkan dengan pendidikan bela negara.

Tempatnya berada di sebuah kota kecil di Jawa Barat. Kota yang mungkin tidak terlalu istimewa jika dilihat dari peta, tetapi bagi saya tempat itu kemudian menjadi semacam ruang kecil untuk mengenal kembali diri sendiri.

Di sana, hari dimulai ketika kebanyakan orang masih tidur. Pukul empat pagi atau bahkan kurang kami sudah harus bangun.

Setelah itu semuanya berjalan seperti sebuah mesin yang tidak mengenal kata malas. Latihan fisik, pembinaan, materi, kegiatan kelompok, apel, evaluasi, dan berbagai aktivitas lain yang membuat waktu terasa tidak pernah benar-benar menjadi milik kami.

Malam pun tidak benar-benar menjadi malam. Pukul sepuluh kami harus sudah tidur. Begitulah hari-hari berjalan.

Tidak ada waktu untuk rebahan sambil membuka media sosial. Tidak ada waktu untuk menonton video pendek selama berjam-jam. Tidak ada notifikasi yang membuat tangan secara refleks merogoh saku.

Karena Tidak ada smartphone. Atau lebih tepatnya, ada, tetapi kami tidak benar-benar memilikinya.

Kami hanya diberi kesempatan memegangnya beberapa menit dalam satu minggu. Kurang lebih tiga puluh sampai empat puluh menit. Itu pun hanya pada hari Rabu. Biasanya setelah salat Magrib dan makan malam.

Awalnya, waktu sesingkat itu terasa seperti hadiah yang sangat besar.

Saya ingat bagaimana rasanya ketika akhirnya bisa memegang ponsel setelah berhari-hari tidak menyentuhnya. Ada rasa rindu yang sulit dijelaskan. Rindu kepada keluarga dan teman-teman. Rindu kepada kehidupan yang selama ini terasa begitu biasa sampai kita tidak pernah menyadari betapa berharganya.

Begitu ponsel berada di tangan, dunia seolah kembali terbuka. Pesan masuk. Notifikasi. Kabar dari rumah. Teman yang bertanya bagaimana keadaan. Percakapan singkat yang sebenarnya sederhana, tetapi terasa begitu penting.

Namun maaf tidak ada waktu untuk menjawab satu persatu hari itu juga.

Teman-teman saya pun melakukan hal yang sama. Kami menggunakan waktu yang sangat singkat itu dengan sebaik-baiknya. Ada yang menelepon keluarga. Ada yang membalas pesan. Ada yang hanya duduk diam sambil menatap layar.

Mungkin lucu kalau dipikir sekarang. Kami begitu merindukan sebuah benda yang sebenarnya tidak pernah benar-benar meninggalkan kami. Tetapi setelah beberapa minggu, sesuatu yang aneh mulai terjadi.

Saya mulai terbiasa.

Awalnya tanpa smartphone terasa seperti kehilangan sesuatu. Seolah ada bagian dari diri yang dicabut paksa. Namun perlahan, rasa kehilangan itu berkurang.

Hari-hari tetap berjalan. Bahkan ternyata berjalan dengan baik.

Saya mulai menyadari bahwa selama ini saya terlalu sering menganggap smartphone sebagai kebutuhan, padahal sebagian besar waktu saya hanya menggunakannya untuk mengusir kesunyian.

Dan ketika kesunyian itu benar-benar datang, ternyata saya tidak mati.

Saya masih bisa berpikir. Saya masih bisa berbicara. Saya masih bisa tertawa. Saya masih bisa merasa lelah. Saya masih bisa merasa senang.

Bahkan saya mulai menikmati beberapa hal yang sebelumnya mungkin luput dari perhatian.

Percakapan langsung dengan teman menjadi lebih berarti. Ketika seseorang berbicara, kita benar-benar mendengarkan. Ketika seseorang bercanda, kita tertawa tanpa perlu merekamnya. Ketika seseorang bercerita tentang keluarganya, kita tidak sibuk melihat layar.

Di tempat itu pula saya belajar tentang satu kata yang sederhana tetapi sering sulit dilakukan: KORSA.

Korsa bukan sekadar berjalan bersama atau mengenakan pakaian yang sama. Ada perasaan bahwa apa yang dilakukan satu orang dapat memengaruhi orang lain. Kesalahan seseorang bisa menjadi beban kelompok. Keberhasilan seseorang juga menjadi kebanggaan bersama.

Kami belajar disiplin. Belajar bertanggung jawab. Belajar jujur. Dengan semangat tentunya. Setidaknya itu yang sering ditekankan pelatih dan komandan.

Tentu saja semuanya tidak selalu menyenangkan. Ada hari-hari ketika tubuh terasa benar" lelah. Ada saat ketika rasanya ingin berhenti. Ada aturan yang terasa berat. Ada kegiatan yang membuat kami bertanya dalam hati, sebenarnya untuk apa semua ini?

Tetapi mungkin manusia memang sering baru memahami sesuatu setelah melewati bagian yang tidak ia sukai. Saya tidak mengatakan pendidikan itu selalu mudah. Justru sebaliknya. Banyak dukanya.

Namun anehnya, ketika semuanya selesai, justru bagian-bagian yang paling berat itulah yang paling sering muncul dalam ingatan.

Ada sesuatu yang tertinggal dari penderitaan yang dijalani bersama. Sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh layar smartphone.

Mungkin karena selama satu bulan itu saya akhirnya punya kesempatan untuk benar-benar hadir di tempat saya berada. Tidak ke masa lalu, masa depan, tidak juga di dunia maya

Hanya di sana.

Setelah Pulang, Ternyata Masih Bosan

Lucunya, cerita tentang smartphone ternyata tidak berhenti ketika pendidikan selesai. Saya pulang ke rumah dengan pikiran bahwa akhirnya saya bisa kembali menggunakan smartphone sesuka hati. HAHA.

Saya kira saya akan membalas semua pesan yang tertunda. Membuka media sosial. Menonton video yang selama sebulan tidak bisa saya lihat. Mungkin juga kembali menjadi manusia yang setiap beberapa menit memeriksa layar tanpa alasan yang jelas.

Ternyata tidak. Saya malah bosan. Bosan sekali.

Smartphone yang selama pendidikan terasa seperti barang mewah, setelah kembali ke rumah justru terasa biasa saja. Bahkan kadang saya hanya memegangnya, membuka beberapa aplikasi, lalu menutupnya lagi karena tidak tahu mau melakukan apa.

Ada semacam kekosongan yang aneh. Bukan karena tidak ada yang bisa dilakukan, tetapi karena terlalu banyak yang bisa dilakukan. Dan ketika terlalu banyak pilihan tersedia, kadang kita justru tidak menginginkan apa-apa.

Lebih lucunya lagi, setelah pulang saya masih harus menunggu penempatan. Jadi kehidupan saya seperti berada di ruang tunggu. Tidak sedang benar-benar sibuk, tetapi juga belum benar-benar bisa menentukan akan ke mana.

Dan di tengah masa menunggu itulah saya semakin sering menjauh dari smartphone. Saya hanya membalas pesan dengan cepat. Sesekali maen Mobile Legend jika ada teman. 

Sampai akhirnya saya berpikir,

"Daripada cuma membuka HP dan melihat hal-hal yang sebenarnya tidak saya perlukan, lebih baik saya menulis."

Dan mungkin itulah alasan tulisan ini akhirnya ada. Saya kembali membuka blog ini. Kembali mengetik. Kembali mencoba mengingat bagaimana rasanya menuangkan sesuatu dari kepala ke dalam kata-kata.

Selama ini saya mengira smartphone yang membuat saya produktif karena di dalamnya ada begitu banyak aplikasi. Tetapi setelah sebulan hampir tidak menyentuhnya, saya justru menemukan bahwa produktivitas kadang muncul ketika semua gangguan itu hilang.

Saya tidak menjadi orang yang lebih hebat setelah satu bulan tanpa smartphone. Saya juga tidak tiba-tiba menjadi manusia yang tercerahkan. Saya masih suka malas. Masih suka menunda. Masih suka bingung mau melakukan apa. Tapi tidak separuh itu sampai tidak melakukan apa-apa.

Tetapi setidaknya sekarang saya tahu bahwa saya bisa hidup tanpa harus selalu terhubung. Dan mungkin itu sudah cukup.

Pada suatu malam, setelah kegiatan selesai dan semua orang mulai bersiap tidur, saya sempat berpikir tentang betapa anehnya kehidupan manusia modern. Kita memiliki begitu banyak cara untuk terhubung, tetapi sering merasa sendirian.

Kita memiliki begitu banyak informasi, tetapi semakin sulit mendengar suara dari dalam diri sendiri. Mungkin itulah sebabnya ketika kembali memegang smartphone setelah pendidikan selesai, saya tidak lagi merasakan kegembiraan seperti sebelumnya.

Ponsel itu masih sama. Layarnya masih menyala. Pesan masih berdatangan. Media sosial masih menawarkan dunia yang tidak pernah selesai. Tetapi ada sesuatu dalam diri saya yang sudah berubah. Saya mulai bertanya sebelum membuka layar.

Untuk apa?
Apa yang sebenarnya saya cari?

Saya tidak kemudian membuang smartphone. Tidak juga menjadi manusia yang sepenuhnya anti-teknologi.

Saya masih menggunakannya. Saya masih membutuhkan internet. Saya masih berkomunikasi melalui berbagai aplikasi. Bagaimanapun, kita hidup di zaman ketika teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan.

Tetapi satu bulan itu mengajarkan saya sebuah batas.

Bahwa sesuatu yang berguna juga bisa menjadi sesuatu yang menguasai kita jika kita tidak tahu kapan harus melepaskannya.

Sekarang, ketika saya merasa bosan hanya dengan memegang smartphone, saya tidak lagi menganggap kebosanan itu sebagai masalah. SAYA AKAN LAWAN!!!
Satu Hari Sebelum Pembukaan

Dan setelah semuanya selesai, saya kembali ke tempat ini. Ke blog ini. Saya akan menulis di blog ini sebagai rakyat biasa.

Dan mungkin, untuk sementara, itu jauh lebih menyenangkan daripada sekadar menatap layar smartphone tanpa tahu apa yang sedang saya cari.

Hehe. Adios.

Posting Komentar untuk "Satu Bulan Tanpa Smartphone, dan Saya Baik-baik Saja"